*Teman Makan Teman*
(Photo taken at Danau Toba)
Drama yang berjudul "Teman Makan Teman" merupakan drama yg diangkat dari kehidupan kami sehari-hari disekolah, yang kami kisahkan dalam sebuah drama dengan tokoh-tokoh yang berbeda juga. Drama ini menceritakan tentang problema persahabatan di sekolah tepatnya sekolah kami sendiri "SMA Gajah Mada Medan" #biareksisdulusekolahny :D . Tokoh-tokoh didalamnya ada saya sendiri "Dina Qisthina" dan rekan-rekan saya yaitu: Sumihar Fransiska (Siska), Sri Devia Ritonga (Devi), Anggi Ragilia, Widia, dan Eko Pola Turnip. Drama ini tercipta pada saat kita-kita masih duduk di bangku kelas XI-IPA , dengan adanya persatuan dan kebersamaan serta terbentuk dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. So, pasti drama kami ini masih banyak kekurangannya bukan?. Maka dari itu, kami berharap banyak kritik dan saran yang kami harapkan dari pemirsa sekalian dimana pun Anda berada hehehe dengan tujuan untuk perbaikan dan kesempurnaan drama kami . Oke langsung saja ke TKP! Have funnn =D
Setting : Ruang kelas
Tema : Persahabatan
Tokoh :
• Siska : si pencuri (iri hati )
• Devi : korban pencurian (suka pamer tapi baik)
• Dina : teman si korban dan pencuri (Orang Jawa, lucu,baik)
• Anggi :teman si korban dan pencuri (Baik, tegas)
• Widia :teman pencuri (Baik, tapi mudah terpengaruh)
• Eko :teman (Cerdik dan Baik)
(Diruang kelas, ketika jam pelajaran sedang kosong, keenam murid mendiskusikan sesuatu. Salah satu diantaranya membawa sebuah laptop).
Devi: (mengeluarkan laptop dari tasnya) “Hei..hei.. liat nihh.. Bagus kan? Ini hadiah lho...”
Dina: “Wahh..Ini opo? Tipi yo..? Kok tipis? Gak kayak dirumahku. Ehh..Tombole buanyaak...Hargane piro? Wuiiihh made in Japan!
Anggi: “Aduuh.. Dina. Ini laptop. L-A-P-T-O-P.
Widia: “Ini tuh gunanya untuk browsing internet, chatting, facebook, juga twitter.” (menunjuk laptop).
Dina: “Opo? Cacing? Cebok? Tuit?
Eko: Bukaan!! Udahlah apa sih yang diributkan?
Siska: “Keren yaa... Harganya berapa?
Devi: “Ini hadiah dari Ayahku waktu ulang tahun ku.”
Anggi: “Baik ya Ayahmu.”
(Bel berbunyi, keenam anak itu keluar dari kelas. Kelas pun menjadi sepi. Sesaat kemudian dua anak masuk dan melakukan aksinya).
Siska: “Ssssttt...Widia kamu jaga pintu ya, jangan sampai ada yang ngelihat.”
Widia: “Iya iya... cepat dong..!!
(Tak lama kemudian, mereka pun keluar membawa sesuatu tanpa ada seorang pun yang tahu. Kemudian Devi, Dina, Anggi memasuki kelas. Sambil berbicara diapun membuka tasnya ternyata laptopnya tidak ada).
Devi: (mambuka dan menutup tasnya berulang kali). “Eh.. lho.. gak ada.. laptop..laptopku gak ada!!
Dina & Anggi: (menoleh bersamaan) “Hah.?! Gak ada.?!
Devi: (wajah panik) “Gak ada.. aduuh.. Laptopnya gak ada.. gimana nih.. Laptopnya hilang..!!
Anggi: “Mungkin kamu lupa taruh dimana. Cari lagi!
Dina: “Iya coba cari dulu.. Mungkin kamu salah letak kali. Ato kamu lali mungkin tarok dimana.
Devi: “Udah aku cari benar-benar.. Aku yakin kalau aku nyimpannya disini.. mana mungkin aku lupa.”
(Eko dan Siska yang baru masuk kelas datang menghampiri Devi, Dina dan Anggi karena mau tahu apa yang mereka ributkan).
Eko: “Kenapa ribut-ribut. Devi kenapa kamu menangis..??
Siska: “Kenapa Dev?
Devi: “Laptopnya hilang!”
Siska: “Lho, kenapa bisa hilang?”
Devi: “Gak tahu pasti ada yang curi!”
Anggi: “Bagaimana kalau kita lapor guru?”
Siska: “Kayaknya gak bisa deh.. Soalnya guru-guru sedang rapat makanya jam pelajaran kosong.”
Dina: “Kita periksa aja semua tas yang ada dikelas ini.”
Siska: “Nggak usah..lagian gak mungkin teman sekelas kita sendiri yang ngambil.”
Eko: (diam sambil menatap Siska) “Okelah kalau begitu kita cari dikelas lain.”
(Mereka pun bergegas untuk mencari ke kelas-kelas lain, tetapi laptop itu tidak ditemukan. Sampai sore mereka mencarinya, namun hasilnya juga tidak ada. Sore hari, kelas sudah kosong, namun dua anak itu masih ada dikelas).
Siska: (Tertawa) “Gak disangka, mudah banget ngambilnya.” (mengeluarkan laptop)
Widia: “Jadi, laptopnya mau diapain?”
Siska: “Pasti aku jual dong. Trus aku dapat uang banyak deh.”
Widia: “Tapi, ini kan dosa, kembalikan lagi deh kalau ketahuan gimana? Mereka bakal gak percaya lagi sama kita.”
Siska: “Udah deh.. Mereka kan punya uang banyak. Bisa beli lagi kan?”
Widia: “Gimana ya.. aku gak ikutan deh. Inikan ide kamu.”
(Namun, selama mereka mengobrol ada satu orang yang melihatnya. Dia adalah Eko. Eko merekam pembicaraan mereka untuk menjadi buktji. Kemudian Eko menelepon Dina untuk datang ke kelas. Dina, Anggi, dan Devi pun datang ke kelas).
Dina: “Lho.. kalian kok masih disini?
Siska: (tertawa gugup) “Ehm ah eh.. gak ada. Ada barang yang ketinggalan tadi.”
Widia: “Eh iya iya ketinggalan.”
Anggi: “Tunggu deh.. aku curiga jangan-jangan kalian...”
Eko: “Ya, mereka yang mencuri laptop itu..!!”
Widia: (Gugup) “Hah?! Mana mungkin kami kan teman kamu gak mungkinlah?!
Siska: “Iya, jangan asal tuduh dong! Mana buktinya? Gak ada kan..?!”
Eko: (memperlihatkan video) “Ini buktinya...!”
Devi: (terkejut) “Ini kalian kan..?? Tapi kenapa?”
Widia: (menunjuk Siska) “Ini .. Ini semua ide dia aku tidak ikut-ikutan!”
Anggi: Tapi kenapa kamu ada di video ini? Coba jelaskan!”
Widia: (menunduk diam)
Dina: “Kita kan teman, kok tega sih sama teman sendiri.”
Siska: (menahan tangis) “Ya, benar. Kami yang mencurinya karena aku iri dengan kalian. Ini nah laptopnya (mengambil laptop dan mengembalikannya). Tapi aku mohon jangan beritahukan ke guru.”
Widia: “Aku gak ikutan ah..”
Dina: “Mana bisa gitu, kalian yang berbuat kalian juga yang harus bertanggung jawab..!!
Siska: (tersentak kaget) “Ap..Apa? Tapi.. aku kan sudah kembalikan laptopnya!”
Eko: “Kita tetap teman, tapi tidak seperti dulu lagi.”
Devi: “Kami tetap akan melaporkan hal ini pada guru” (berjalan pergi).
(Semua pergi, kevuali Siska. Ia masih terdiam, kemudian dia menangis dan terduduk dilantai)
Siska: “Maaf..maaf.. teman-teman.. aku sadar persahabatan lebih penting... Maaf...”
(Siska menangis tersedu-sedu sesaat kemudian lampu surut pelan-pelan dan drama selesai)
*SELESAI*